Selasa, 05 Maret 2013

Obat-obatan Tradisional dan Manfaatnya

Obat-obatan Tradisional dan Manfaatnya
Obat Tradisional
Selama berabad-abad, berbagai macam obat telah berupaya ditemukan manusia untuk mengobati berbagai penyakit. Sejak zaman yang paling awal, obat tradisional yang kebanyakan berupa obat herbal telah digunakan untuk mengobati penyakit. Misalnya Papirus Ebers, yang disusun di Mesir sekitar abad ke-16 SM, memuat ratusan obat rakyat untuk berbagai penyakit. Akan tetapi, pengobatan herbal biasanya diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi.

Flora dan Fauna Endemik Indonesia

Sudah tahu dong apa yang dimaksud endemik? Itu loh makhluk hidup yang disinyalir cuman ditemuin di satu wilayah. Sebab, di wilayah lain gak bakal ditemui. Nah, apa aja sih flora dan fauna endemik di Indonesia? Pengin tahu? Ya udah, lanjuuut... :~

Sabtu, 23 Februari 2013

TAWURAN ANTAR PELAJAR


Penyebab Terjadinya Tawuran Antarpelajar            :
1.    Faktor keluarga
2.   Baik buruknya rumah tangga atau berantakan dan tidaknya sebuah rumah tangga.
3.    Perlindungan lebih yang diberikan orang tua.
4.   Penolakan orang tua, ada pasangan suami istri yang tidak pernah bisa memikul tanggung jawab Sebagai ayah dan ibu.
5.    Pengaruh buruk dari orang tua, tingkah laku kriminal dan tindakan asusila.
6.    Faktor lingkungan sekolah

DEMONSTRASI DI INDONESIA


Penyebab Terjadinya Demontrasi Di Indonesia       :
  1. Sikap Para Demonstran Yang Menganggap Pendapat Mereka Paling Benar Dan Harus Dituruti.
2.    Suasana Panas, Sesak Dan Penat Akan Membuat Para Demonstran Cenderung Mudah Terpancing Emosi.
3.    Tidak Ada Perwakilan Yang Bersedia Menanggapi Dan Berbicara Dengan Para Demostran.
4.   Kerusuhan Dalam Demo Memang Sudah Di Rencanakan.
5.    Adanya Provokasi.


Cara mengatasi demonstrasi     :
1.    jangan jadikan perbedaan faham sebagai alasan untuk jurang pemisah antara satu dan lainnya
2.   Kita harus dapat mentoleransi berbedaan pendapat
3.    Kita harus lebih mementingkan kepentingan kelompok daripada kepentingan individu


KESIMPULANNYA : Rakyat kehilangan kendali, rakyat hanya ingin memerintah dirinya sendiri dan tidak mau lagi di atur sehinggga mengakibatkan keadaan menjadi kacau, maka itu yang disebut dengan anarkis sekarang ini. Hal ini sangat sesuai dengan demonstrasi anarkis yang terjadi di Indonesia saat ini. Dalam demonstrasi para demonstran umumnya tidak hanya mengemukakan pendapat, tetapi pada ujungnya sampai tahap memaksakan kehendaknya dan pendapatnya, yang kemudian mereka melakukan tindakan anarkis dan amoral dalam memaksakan pendapatnya, yang akhirnya berujung kekerasan atau tindakan yang anarkis.

ARTI CERITA (CERPEN)


Hujan malam ini mengingatkan ku pada suatu kisah yang begitu sulit untuk di sirna dari otakku, yang mana pada waktu itu cuaca tidak mau bekerja sama dengan ku, cahaya kilat berlarian di kegelapan langit yang meneteskan ribuan butiran air, petir pun bertengkar, rasanya jantungku mau copot, seakan kakiku tak sanggup untuk beranjak dari ranjang ku, tiba-tiba, bbwwwaaaarrrr, petir pun menyambar, dan kamarku tiba-tiba menjadi gelap, hummm… ternyata PLN juga ikut tuh ngerjain aku, sial!!! saat aku mencari-cari lampu untuk menemani kegelapan ku, terlintas di depan jendela kamarku dua buah cahaya yang sangat asing bagiku, dan tidak pernah sebelumnya aku temukan di hidupku. Aku bingun dan merasa heran, bercampur dengan rasa takut dan penasaran, apaan sih? kok aneh gitu? akh, mungkin pantulan kilat doank, ucapku dalam hati.

PERISTIWA RENGASDENGKLOK


Peristiwa Rengasdengklok adalah peristiwa dimulai dari "penculikan" yang dilakukan oleh sejumlah pemuda (a.l. Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh dari perkumpulan "Menteng 31" terhadap Soekarno dan Hatta. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00. WIB, Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia,sampai dengan terjadinya kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan Hatta serta Mr. Achmad Subardjo dengan golongan muda tentang kapan proklamasi akan dilaksanakan.
Menghadapi desakan tersebut, Soekarno dan Hatta tetap tidak berubah pendirian. Sementara itu di Jakarta, Chairul dan kawan-kawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. Tetapi apa yang telah direncanakan tidak berhasil dijalankan karena tidak semua anggota PETA mendukung rencana tersebut.
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 di lapangan IKADA(yang sekarang telah menjadi lapangan Monas) atau di rumah Bung Karno di Jl.Pegangsaan Timur 56. Dipilih rumah Bung Karno karena di lapangan IKADA sudah tersebar bahwa ada sebuah acara yang akan diselenggarakan, sehingga tentara-tentara jepang sudah berjaga-jaga, untuk menghindari kericuhan, antara penonton-penonton saat terjadi pembacaan teks proklamasi, dipilihlah rumah Soekarno di jalan Pegangsaan Timur No.56. Teks Proklamasi disusun di Jakarta, bukan di Rengasdengklok, bukan di rumah seorang Tionghoa, Djiaw Kie Siong yang diusir dari rumahnya oleh anggota PETA agar dapat ditempati oleh "rombongan dari Jakarta". Naskah teks proklamasi di susun di rumah Laksamana Muda Maeda di Jakarta, bukan di Rengasdengklok. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang di Rengasdengklok pada Rabu tanggal 16 Agustus, sebagai persiapan untuk proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto dikirim untuk berunding dengan pemuda-pemuda yang ada di Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Wikana dan Mr. Achmad Soebardjo, kemudian Kunto dan Achmad Soebardjo ke Rangasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur. Achmad Soebardjo mengundang Bung Karno dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pada tanggal 16 tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta.
Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus 1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang "dipinjam" (tepatnya sebetulnya diambil) dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.[1]

KATA-KATA BIJAK IR. SOEKARNO


1.   Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu ! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, dari pada makan bestik tetapi budak. [Pidato HUT Proklamasi, 1963]